UrlEdge
Kembali ke Blog
2026-03-12 UrlEdge Editorial3 min read

Checklist redirect migrasi website untuk tim SEO

Gunakan checklist redirect ini untuk melindungi URL bernilai tinggi, menghindari chain, dan menangkap kesalahan migrasi sebelum DNS dipindahkan.

Tim kecil merencanakan checklist migrasi website dan validasi redirect di sekitar laptop

Migrasi website sering gagal bukan karena desain baru, tetapi karena redirect tidak disiplin. Sebelum DNS dipindahkan, pertanyaannya sederhana: apakah setiap URL lama yang penting bisa mencapai destination baru yang tepat dalam satu hop bersih?

Checklist ini cocok untuk tim yang pindah:

  • ke domain baru
  • ke CMS baru
  • dari monolith ke headless
  • dari subdomain ke root domain
  • dari struktur blog/docs lama ke struktur URL baru

Jika migrasi juga melibatkan domain forwarding wildcard, buka juga panduan domain forwarding tanpa kehilangan path dan UTM.

Target yang tidak bisa dinegosiasikan

Sebelum launch, lima hal ini harus benar:

  1. URL lama bernilai tinggi punya destination baru yang relevan.
  2. Perpindahan permanen memakai status permanen.
  3. Redirect selesai dalam satu hop bila memungkinkan.
  4. Internal link sudah mengarah ke URL canonical baru.
  5. Monitoring pasca-launch sudah siap sebelum traffic berpindah.

Tim merencanakan migrasi website dan langkah QA redirect di laptop

Checklist redirect

1. Inventaris semua URL lama

Jangan hanya memakai ingatan. Ambil URL dari:

  • XML sitemap
  • landing page analytics
  • Search Console top pages
  • campaign URL berbayar
  • template email
  • backlink dan dokumen partner
  • arsip blog dan docs

Jika URL membawa traffic SEO, conversion, atau support, masukkan ke inventory.

2. Pilih canonical hostname final

Tentukan standar sebelum aturan dibuat:

  • https://brand-baru.example
  • atau https://www.brand-baru.example

Keputusan host yang tidak jelas memunculkan chain seperti http -> https -> www -> final.

3. Simpan redirect map dalam CSV

Minimal, catat:

old_url,new_url,status,priority,owner,notes
https://brand-lama.example/pricing,https://brand-baru.example/pricing,301,high,marketing,landing utama
https://brand-lama.example/docs/api,https://brand-baru.example/docs/api,301,high,engineering,migrasi docs

Owner penting. Saat ada destination yang salah, tim tahu siapa yang memutuskan.

4. Pilih status code berdasarkan niat

  • 301 untuk perpindahan permanen.
  • 302 untuk campaign atau perubahan sementara.
  • 307/308 untuk kasus method HTTP harus dipertahankan.

Baca perbedaan redirect 301, 302, 307, dan 308 jika migrasi melibatkan API atau form.

5. Pertahankan path dan UTM

Campaign di Indonesia sering berjalan lewat WhatsApp, TikTok, Instagram, email, QR, affiliate, dan marketplace. Jangan biarkan parameter UTM hilang saat redirect.

Cek contoh seperti:

/promo?utm_source=tiktok&utm_campaign=ramadan

harus tetap membawa parameter ke destination baru.

6. Uji sebelum DNS pindah

Ambil sampel dari URL high priority:

  • halaman produk atau kategori utama
  • artikel dengan traffic organik
  • link campaign aktif
  • URL dengan parameter UTM
  • halaman support atau docs

Gunakan Redirect Checker untuk melihat status code, hop, dan destination akhir.

7. Monitor setelah launch

Setelah traffic berpindah, pantau:

  • 404 dan 5xx
  • redirect chain
  • penurunan klik organik
  • campaign landing page yang salah
  • destination yang mulai rusak

Migrasi yang baik bukan berarti tidak ada issue. Artinya issue cepat terlihat, punya owner, dan bisa diperbaiki tanpa mengubah server secara manual.

Siap merapikan redirect Anda?

Mulai gunakan UrlEdge untuk mengelola traffic dari edge.

Mulai

Artikel Terkait

Lihat semua
Rambu arah sebagai ilustrasi memilih status code redirect yang tepat
2026-03-15

Perbedaan redirect 301, 302, 307, dan 308

Gunakan 301 atau 308 untuk perpindahan permanen, dan 302 atau 307 untuk perubahan sementara. Bedanya ada pada niat dan apakah method HTTP harus tetap sama.

3 min read